Kamis, 25 Januari 2018

Apakah Orang Percaya Bisa Kerasukan Setan?

BAB I
PENDAHULUAN

Kehidupan kekristenan jaman sekarang menimbulkan banyak sekali polemik di dalam jemaat ataupun di dalam gereja itu sendiri. Perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan teologi adalah faktor utama terjadinya polemik dan diferensiasi di dalam kekristenan. Tidak bisa dipungkiri dari perbedaan pendapat inilah sering terjadi kekacauan di dalam jemaat. Hal ini dikarenakan gereja tidak lagi menjalankan fungsi yang sebenarnya, dan seakan-akan Alkitab hanya dijadikan sebagai bahan referensi saja dan bukan sebagai dasar hidup kekristenan. Berbagai bentuk pertanyaan yang muncul sehubungan dengan iman kristen, dan banyak pula pendapat dari para teolog yang tentunya berbeda-beda. Sebenarnya jika kita mengembalikan semuanya itu kepada Alkitab dan menjadikan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam kehidupan kekristenan, maka hal-hal seperti yang disebutkan diatas jarang terjadi dan bahkan tidak akan terjadi. Satu pertanyaan mengenai iman kristen, Apakah Orang Percaya Bisa Kerasukan Setan? Tentu mendapat reaksi yang berbeda dari setiap orang dan dari kalangan teolog sendiri.
Dalam usaha menjawab pertanyaan tersebut penulis menggunakan buku-buku referensi yang tentunya mendukung pembahasan ini dan menjadikan Alkitab sebagai bahan referensi utama. Akhirnya, usul serta saran pembaca sangat penulis harapkan untuk dapat menjadi acuan dalam penulisan paper-paper selanjutnya.
Tuhan Yesus Memberkati.




BAB II
APAKAH ORANG PERCAYA BISA KERASUKAN SETAN

Banyak orang Kristen jaman sekarang yang tidak mengerti makna kekristenan yang sesungguhnya sehingga mereka menganggap kekristenan hanya merupakan suatu formalitas saja, dan lebih mengherankan lagi ada beberapa orang yang mengatakan, yang penting ada agama. Ciri-ciri orang yang seperti inilah yang mudah sekali dirasuki setan.
〆Hubungan Antara Orang Percaya dan Orang Kristen
Orang percaya sebenarnya memiliki kesamaan dengan orang Kristen. Orang kristen dalam arti harfiahnya adalah pengikut Kristus. Jika Kristen adalah pengikut Kristus, tentu sebagai pengikut Kristus mereka juga percaya dan melakukan Firman-Nya karena kalau mereka tidak percaya untuk apa mereka menjadi pengikut Kristus. Yang menjadi masalah adalah ada banyak orang Kristen yang tidak mengerti benar tentang makna kekristenan yang sesungguhnya, sehingga ada beberapa orang yang memisahkan antara orang Kristen dan orang Percaya.
Arti kata percaya dalam kamus besar bahasa Indonesia seperti berikut:
Percaya: 1 mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata; 2 menganggap atau yakin bahwa sesuatu itu benar-benar ada; 3 menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur (tidak jahat dsb); 4 yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb).

Dari penjelasan arti tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa, orang percaya adalah orang yang benar-benar mengakui dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat Pribadi. Dan jika diselaraskan dengan kekristenan jaman sekarang, orang percaya adalah orang Kristen sejati.

〆Ciri-ciri Orang Percaya
Orang Percaya (Kristen sejati) adalah orang yang telah mengalami pembaharuan oleh Roh Kudus: bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi dan menghidupi Firman-Nya. Orang Percaya adalah orang yang telah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-8), (Titus 3:5) Roh Kudus memberi hidup (Yohanes 6:63). Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya (Yohanes 14:17), (Roma 8:9), (1 Korintus 3:16; 6:19). Orang percaya adalah orang yang telah dibaptis oleh Roh Kudus (Lukas 3:16, Yohanes 1:33, KPR 1:5; 11:16, 1 Korintus 12:13, dll), dan yang telah dimeteraikan Roh Kudus (Efesus 1:13, 14; 4:30, 2 Korintus 1:22). Henry C. Thiessen dalam bukunya Teologi Sistematika menjelaskan bahwa:
Roh Kudus adalah Roh yang mengangkat kita sebagai anak dan yang “bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Roma 8:16 bandingkan dengan Galatia 4:6). Keempat  karya Roh Kudus ini terjadi serempak dan ketika seseorang memiliki iman yang menyelamatkan.

Dari penjelasan diatas dapat diartikan Karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya menjadikan mereka anak-anak Allah dan memiliki iman yang menyelamatkan. Selain itu, Dr. G.C. van Niftrik dan Dr. B.J. Boland dalam bukunya Dogmatika Masakini memberi penjelasan:
Sebab Roh Kudus adalah Allah sendiri, yang dari luar (“dari atas”) datang kepada kita dan berkenan menciptakan bagi-Nya suatu tempat di dalam hati kita

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri orang percaya adalah orang yang didiami oleh Roh Kudus.
〆Peranan Roh Kudus Dalam Kehidupan Orang Percaya
Roh Kudus mempunyai peranan penting dalam perjalanan kehidupan orang percaya, karena Roh Kudus memenuhi hidup orang percaya (KPR 2:4; 6:3; 9:17; 11:24, Efesus 5:18, dll). R.C. Sproul dalam bukunya Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen menjelaskan bahwa:
Setiap orang Kristen dipenuhi oleh Roh Kudus. Pemenuhan Roh berada dalam derajatnya bagi setiap orang Kristen, ini bergantung dari sejauh mana orang Kristen itu membiarkan dirinya dikuasai oleh Roh Kudus. Tetapi Roh Kudus tinggal di dalam diri setiap orang Kristen.

Jelaslah bahwa setiap orang Kristen dipenuhi oleh Roh Kudus, karena Roh Kudus itu tinggal di dalam diri orang Kristen.
Selain memenuhi, Roh Kudus Juga berperan sebagai pembimbing/pemimpin (Galatia 5:16, 25, Roma 8:14), mendisiplinkan (KPR 5:9), memberi pengarahan (KPR 8:29), memberi tugas (KPR 13:2), mengambil keputusan (KPR 15:28), serta melarang (KPR 16:6, 7). Kemudian Ia memberi kuasa kepada orang-orang percaya (Roma 8:13; Galatia 5:17), penghibur dan pengajar (Yohanes 14:26; 16:13).
Di dalam kehidupan orang percaya (Kristen sejati) Roh Kudus berperan sebagai penolong, pemimpin, pemberi kuasa, pengajar, penghibur dan Ia juga memenuhi setiap hati orang percaya karena Ia tinggal di dalamnya. Dan senantiasa menjaga dan melindungi orang percaya.






〆Pendapat Penulis
Dari semua penjelasan di atas, penulis mengambil kesimpulan dan berpendapat bahwa orang percaya tidak bisa dirasuki setan. Karena di dalam diri orang percaya tinggal Roh Kudus yang senantiasa melindungi, memberi kuasa untuk menghadapi serangan iblis, dan juga memberikan pengarahan/pengajaran agar tidak mudah tergoda oleh keinginan daging. Lagi pula Firman Tuhan yang terdapat di dalam Injil Markus 16:17,18 berkata: “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Jadi bagaimana mungkin orang percaya (Kristen sejati) bisa kerasukan setan, sedangkan mereka sendiri yang mengusir setan-setan itu. Roh Kudus yang ada di dalam diri orang percaya bekerja melebihi apa yang kita pikirkan. Dialah yang memberi kita kekuatan dan penghiburan, karena Dia adalah Allah itu sendiri.







BAB III
KESIMPULAN


Iman Kristen yang sesungguhnya adalah iman yang didasarkan dengan kebenaran Firman Tuhan. Alkitab begitu jelas memberikan suatu penjelasan tentang bagaimana dan seperti apa orang percaya itu. Tetapi tidak bisa dipungkiri masih ada orang-orang yang seolah-olah mereka mempersalahkan Alkitab dan menganggap pendapat merekalah yang paling benar. Dari orang-orang yang seperti inilah yang kemudian menimbulkan suatu perpecahan dan perbedaan pandangan teologi di dalam jemaat Tuhan.
Pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang dilandaskan atas dasar kebenaran Firman Tuhan dan iman Kepada Firman yang menghidupkan. Akhirnya, biarlah segala puji, hormat dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, karena pertolongan-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan paper ini. Dan biarlah paper ini berguna bagi setiapa pembaca yang membacanya. Amin.



Senin, 28 April 2014

POLEMIK KARUNIA BAHASA LIDAH dan IMPLIKASINYA DALAM PERTUMBUHAN GEREJA MASA KINI BERDASARKAN 1 KORINTUS 14:1-25

BAB I
PENDAHULUAN

Karunia adalah salah satu ciri khas orang Kristen sehingga menjadikannya unik dan menarik. Namun, dibalik karunia-karunia yang ada ternyata di situ juga terjadi perdebatan yang hebat bahkan tidak jarang terjadi perpecahan di dalam gereja. Masalah inilah yang terjadi di jemaat Korintus. Karunia yang dimiliki tidak digunakan untuk kemuliaan Tuhan tetapi dijadikan sebagai alat untuk kesombongan dan pementingan diri sendiri. Ada yang menganggap bahwa karunia yang mereka miliki lebih berguna atau lebih penting daripada yang dimiliki oleh yang lain, sehingga Paulus menegaskan bahwa karunia-karunia yang mereka miliki dikerjakan oleh Roh yang sama.
Dalam pembicaraannya dalam I Korintus 12:4-11 ia bermaksud untuk memperlihatkan bahwa karunia apapun, pemberinya ialah Roh yang sama. Bahkan ia membuat kontras antara kepelbagaian karunia dengan kesamaan Allah, Tuhan dan Roh (ay 4-6), dengan maksud yang jelas yaitu melawan semangat perpecahan yang telah muncul di Korintus.
Satu karunia yang sangat hangat diperdebatkan adalah mengenai karunia bahasa roh/lidah. Paulus banyak membahas mengenai karunia ini karena jemaat Korintus lebih mengutamakan karunia bahasa roh daripada karunia-karunia yang lain dan mereka menganggap bahwa karunia bahasa rohlah yang lebih tinggi dibanding dengan karunia-karunia lain. Karena masalah inilah sehingga Paulus membahas hampir satu pasal dalam pasal 14 mengenai karunia bahasa lidah. Masalah yang sama, yang terjadi di Korintus juga sedang terjadi dalam gereja masa kini. Banyak gereja yang mengklaim bahwa jika gereja belum memiliki karunia bahasa lidah maka sebenarnya gereja (jemaat) tersebut belum memiliki karunia, karena mereka menganggap bahwa karunia bahasa lidah adalah karunia yang lebih penting daripada karunia-karunia yang lainnya.
Dari masalah di ataslah sehingga penulis tertarik untuk membahas mengenai polemik karunia bahasa lidah dan implikasinya dalam pertumbuhan gereja masa kini berdasarkan 1 Korintus 14:1-25 yaitu mengenai seberapa pentingnya karunia bahasa lidah itu dalam hubungan pribadi dengan Tuhan dan dalam persekutuan dalam jemaat.
Adapun tujuan penulis membahas masalah ini agar orang-orang percaya, khususnya para pembaca dapat mengerti dengan baik dan benar mengenai apa sebenarnya karunia bahasa lidah itu dan apa manfaatnya bagi kehidupan pribadi dan kelompok sebagai tubuh Kristus. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat, dan penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca sekalian untuk dapat menjadi acuan dalam penulisan makalah-makalah selanjutnya.

BAB II
POLEMIK KARUNIA BAHASA LIDAH dan IMPLIKASINYA DALAM PERTUMBUHAN GEREJA MASA KINI
BERDASARKAN 1 KORINTUS 14:1-25

Bahasa lidah atau dikenal juga dengan sebutan bahasa roh adalah salah satu karunia yang paling kontroversial. Karunia ini banyak diperdebatkan. Ada yang setuju, ada yang tidak akan keberadaan karunia ini di dalam jemaat. Sebelum penulis membahas lebih jauh mengenai karunia ini, terlebih dahulu penulis akan membahas sedikit mengenai etimologi dari bahas roh itu sendiri.

A. Pengertian Bahasa Lidah
Bahasa lidah atau bahasa roh berasal dari bahasa Yunani dengan etimologi glossa (glwssa) yang artinya: "tentang gaya bahasa yang tidak pasti; lidah; dengan implikasi, suatu bahasa ([yang] secara khusus, yang tidak memperoleh/memiliki arti) lidah." TDNT-1:719,123. Dari penjelasan etimologi ini, jelas bahwa bahasa lidah adalah bahasa yang khusus yang tidak bisa dimengerti dan tidak pasti. Craig Preston juga menjelaskan bahwa: "bahasa lidah adalah ungkapan yang tidak berarti, tidak dimengerti, dan merupakan suatu ungkapan yang luar biasa."
Dari penjelasan-penjelasan arti kata di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa glossa adalah bahasa yang khusus, yang tidak memiliki arti dan tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang mendengarnya dan bahkan orang yang mengucapkannya pun tidak memahaminya.

B. Polemik Karunia Bahasa Lidah
1). Pengunaan bahasa lidah
ü Penggunaan dalam Kisah 2:1-13
Leslie B. Flynn menjelaskan mengenai penggunaan bahasa ini. Ia menjelaskan bahwa bahasa-bahasa lidah dirujuk tiga kali dalam Kisah Para Rasul, dan juga di suatu bagian dalam 1 Korintus (12-14). Dalam Kisah Para Rasul, bahasa-bahasa lidah kelihatannya merujuk pada suatu bahasa asing. Kata Pentakostal berasal dari pengalaman pada Hari Pentakosta ketika 120 orang berbicara dalam dialek-dialek, bukan bahasa ibu mereka dan tidak dipelajari melalui proses pendidikan normal, sehingga orang-orang dari banyak bangsa mendengar pesannya, masing-masing dalam bahasa mereka sendiri (Kis. 2:1-13).
Kegunaan utama glosolali (berbicara dalam bahasa-bahasa lidah) dalam Kisah Para Rasul kelihatannya sudah nyata: yakni, bahwa, untuk membuktikan utusan-utusan Injil. Pada saat Pentakosta, berbicara dalam bahasa-bahasa lidah memikat kerumunan orang banyak, menyediakan suatu batu loncatan bagi khotbah Petrus, dan membantu memenangkan 3.000 jiwa.
Berbicara dalam bahasa lidah di rumah Kornelius (Kis. 10:44-47) juga mungkin mencakup bahasa-bahasa asing tertentu karena Petrus menyebutnya "sama seperti" yang datang saat pentakosta (11:15-18). Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis di Efesus datang untuk mengetahui tentang Kristus dan berbicara dalam bahasa lidah, ini kelihatannya merupakan mukjizat yang sama dengan berbicara dalam dialek-dialek asing.
ü Penggunaan dalam 1 Korintus 12-14
Banyak, yang akan setuju bahwa bahasa lidah dalam tiga episode di
Kisah Para Rasul merujuk pada bahasa-bahasa tertentu, percaya bahwa berbicara dalam bahasa lidah dalam 1 Korintus 12-14 adalah sesuatu yang berbeda. Bahasa-bahasa lidah ini dianggap sebagai ucapan-ucapan ekstatik yang tidak berhubungan dengan bahasa apapun yang dikenal. Para sarjana yang mempelajarinya membedakan berdasarkan pokok masalahnya. Ketika penulis ini memeriksa sepuluh komentar dalam 1 Korintus, lima berkata bahwa bahasa lidah merupakan bahasa-bahasa tertentu seperti pada saat Pentakosta dan lima berkata bahwa bahasa-bahasa lidah merupakan ucapan-ucapan ekstatik.
Jika bahasa-bahasa lidah di Korintus adalah ucapan-ucapan ekstatik,
tipe kata-kata bahasa lidah ini tidak akan disebut Pentakostal, karena pada saat Pentakosta kata-kata yang diucapkan adalah dalam bahasa-bahasa asing tertentu. Pada saat Pentakosta, sebaliknya dari mendirikan penghalang-penghalang bahasa baru, rintangan-rintangan linguistik (berkenaan dengan ilmu bahasa) yang sudah ada dihilangkan saat masing-masing mendengar dalam bahasanya sendiri. Sangat banyak kata-kata bahasa lidah modern (tipe ucapan-ucapan ekstatik) melakukan hal yang berlawanan, yakni dengan mendirikan suatu penghalang bahasa, yang tanpa penafsiran tidak dapat dipahami.
Russel P. Spittler berpendapat bahwa bahasa lidah adalah: "Ucapan yang diilhami dalam satu bahasa yang tidak diketahui si pembicara, mungkin dapat merupakan satu bahasa yang diketahui di dunia ini, tetapi yang tidak dipelajari oleh si pembicara (seperti pada hari Pentakosta). Atau mungkin satu bahasa yang tidak dimengerti oleh seorangpun (14:2).
Mengenai penggunaan bahasa ini V.C. Pfitzner juga berpendapat bahwa: "Hal-hal yang rahasia - khususnya dalam bentuk tunggal - adalah istilah yang seringkali mewakili kebenaran Injiil itu sendiri (bacaan alternatif dalam 2:1; 4:1; 13:2; Ef. 1:9; 3:3, 4, 9; 16:19; Kol. 1:26, 27; 2:2; 4:3); di sini bentuk jamaknya berarti hal-hal rahasia yang tidak dapat langsung dipahami oleh pendengarnya. Jelaslah bahwa Paulus menganggap karunia khusus berbahasa roh itu berbeda dengan berbicara dalam bahasa-bahasa lain yang aneh seperti yang terjadi atas para rasul pada hari Pentakosta (Kis. 2:6-11).
Melalui penjelasan di atas jelas bahwa penggunaan bahasa (glossa) dalam Kisah Para Rasul dan dalam 1 Korintus adalah sama, tetapi dalam konteksnya berbeda, karena dalam KPR. 2:1-13 memang di sana pemakaian katanya adalah glossa, tetapi ini bersifat Pentakostal karena terjadi pada saat hari Pentakosta (pencurahan Roh Kudus). Sedangkan glossa yang digunakan dalam 1 Korintus 12 dan 14 adalah bersifat ekstatik (gembira luar biasa), dan bahasa lidah yang bersifat ekstatik inilah yang sedang berkembang dan menyebar luas di dalam gereja masa kini, khususnya dalam aliran kharismatik.
2). Pengaruhnya bagi iman Kristen masa kini
Di bagian pertama kita telah melihat penggunaan bahasa lidah berdasarkan sumber dalam KPR dan 1 Korintus. Jelas bahwa dari penggunaannya saja di sana sudah terjadi perdebatan, maka tidak heran jika pada masa sekarang karunia yang satu ini masih hangat diperdebatkan. Sebenarnya, di sini penulis melihat bahwa kebanyakan dari kalangan Kristen Kharismatik baik tradisional maupun modern mengabaikan konteks yang ada dan terlalu memaksakan, sehingga tidak jarang penulis sendiri menemui melalui wawancara dan pengalaman pribadi ketika mengikuti ibadah di gereja yang beraliran Kharismatik, karunia ini sudah dijadikan semacam doktrin yang menjadi keharusan bagi warga gereja.
Inilah titik kekeliruan yang membawa kepada kemerosotan iman (artinya menganggap karunia bahasa lidah yang tertinggi dan sebagai standart kekristenan sejati). Jelas bahwa ketika gereja menjadikan karunia sebagai doktrin di dalam gereja dan bahwa karunia bahasa lidah dapat diajarkan dan bisa dipelajari, maka konsekwensi yang terjadi adalah gereja tersebut menganggap rendah orang yang tidak bisa berbahasa roh (keangkuhan rohani), dan fokus penyembahan tidak lagi kepada Kristus karena masing-masing saling menonjolkan karunia yang mereka miliki tersebut. Dan inilah pembodohan yang sedang dipraktekkan oleh gereja.
Mengenai polemik ini, J. Sidlow Baxter memberikan argumennya berdasarkan apa yang terjadi di jemaat Korintus dan implikasinya dalam jemaat masa kini, dia berpendapat bahwa: "Hanya Jemaat di Korintus - yang menurut Paulus - "masih manusia duniawi" dan "belum dewasa dalam Kristus," yang amat menggembar-gemborkan karunia bahasa roh. Jadi jelas karunia itu dapat terjadi pada orang yang rendah rohaninya, bukan hanya pada mereka yang saleh!.... Kepada orang yang merindukan karunia bahasa roh, Pulus berkata, "saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu" (14:20). Paulus menyetujui karunia itu dijadikan tanda di hadapan orang yang tidak beriman (ay 22). Meskipun demikian ia memperingatkan tanda seperti itu tidak akan berhasil (ay 21). Dalam ay 2, 4, 5, 6, 9, 16, 19, 22, 23, 28, ia memperlihatkan karunia bahasa roh itu sedikit atau tidak ada faedahnya dalam kebaktian. Bila ia menyetujuinya, itupun tidak secara positif. "Saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa "roh".
Jelas dari penjelasan di atas dan berdasarkan ayat-ayat referensinya bahwa karunia bahasa lidah bukanlah karunia yang terpenting dan tidak dapat membangun iman jemaat, dan bahwa mereka yang terlalu menyanjung karunia ini masih manusia duniawi dan masih seperti pemikiran anak-anak. Meskipun pendapat ini agak ekstrim, namun fakta yang terjadi di Korintus dan pada masa sekarang adalah bukti nyata yang tak terelakkan. Justru Paulus menganjurkan agar jemaat Korintus mengutamakan karunia bernubuat ketimbang berbahasa roh karena menurut Paulus karunia bernubuat adalah penting karena dapat membangun iman jemaat, sedangkan karunia bahasa roh tidak.
Namun demikian, kita masih bisa menemukan manfaat-manfaat dari karunia bahasa roh, asal karunia ini digunakan dengan sewajarnya dan benar-benar karunia yang dimiliki oleh orang itu dan bukan karena melalui proses belajar (karena ini adalah karunia, maka tidak bisa dipelajari kecuali Tuhan sendiri yang menganugerahkan kepadanya) atau bukan untuk kesombongan rohani semata. Manfaat-manfaat karunia bahasa lidah ini akan penulis bahasa pada pembahasan berikutnya.

C. Manfaat Karunia Bahasa Lidah
Meskipun melalui penguraian demi penguraian di atas seolah-olah bahasa lidah tidak ada gunanya, dan tidak dianggap penting, namun kita masih bisa menemukan manfaat dari karunia ini, dan bahkan karunia ini juga bisa membangun dan menguatkan iman.
ü Dalam hubungan pribadi dengan Allah
Tidak dapat disangkal bahwa berbahasa roh juga membangun dan menguatkan iman. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, dan itu tidak masalah. Paulus sendiri tampaknya mempradugakan bahwa berbahasa seperti itu lebih tergolong pada ibadah dan meditasi pribadi dan bukan ibadah umum (19). Berbicara di dalam hati dengan Allah dapat menghasilkan kedamaian batin dan kepastian yang penuh dengan sukacita akan kasih karunia yang memampukan seorang Kristen melayani orang-orang lain dalam berbagai cara; Paulus tidak akan menyangkal hal itu.
David L. Baker dalam bukunya Roh dan Kerohanian Dalam Jemaat memberikan argumennya mengenai hal ini, dia berpendapat bahwa: "Manfaat bahasa-lidah yang sebenarnya terdapat dalam kerohanian pribadi. Hal ini menyangkut doa (ay 2, 14) dan ada juga gunanya untuk membangun diri si pembicara (ay 4; bnd. Ay 28b), yang memang tidak salah asal tidak dipentingkan atas tujuan karunia yang utama, yaitu untuk membangun jemaat. Bahasa-lidah merupakan salah satu cara berdoa yang diberikan Tuhan kepada manusia dan yang tidak boleh ditentang seolah-olah tidak baik. Walaupun bahasa-lidah dilarang dalam kebaktian jemaat karena tidak dimengerti, hal itu tidak menjadi masalah dalam kebaktian pribadi karena roh boleh saja berdoa tanpa pikiran mengertinya. Doa dan pujian dengan bahasa-lidah ditujukan kepada Tuhan, dan tentulah Dia mengertinya.
Jelas dari pendapat-pendapat di atas bahwa bahasa lidah berguna atau bermanfaat dalam membangun hubungan pribadi orang yang menggunakan karunia ini dengan Allah. Dengan demikian,  bahasa roh penting jika digunakan untuk membangun relasi yang baik dengan Tuhan secara pribadi, dan ini juga harus benar-benar merupakan karunia dari yang menggunakannya dan tidak dibuat-buat supaya dipuji orang.
ü Untuk membangun iman jemaat
Dalam ayat 13 jelas Paulus mengatakan bahwa "kepada siapa yang yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya ia juga dapat menafsirkannya." sehingga jemaat dapat dibangun (5). Bahkan Paulus sendiri menggunakan bahasa roh, tetapi dilanjutkan dengan frasa "apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau pengajaran?" (6). Dan juga dalam ayat 18-19 "Rasul Paulus dapat berbahasa lidah lebih dari mereka. Ia lebih mementingkan hal membangun orang lain dari pada membangun diri sendiri. Di dalam jemaat ia tidak akan menggunakan bahasa lidah. Lebih baik mengucapkan lima kata  saja yang dapat dimengerti daripada ribuan kata yang tidak dapat dimengerti."
Paulus mengemukakan statementnya dalam ayat 20 berkenaan dengan sikap jemaat Korintus pada waktu itu, bahwa: "Jemaat Korintus menekankan bahasa lidah- kenyataan ini menunjukkan bahwa mereka belum dewasa- masih sepertu kanak-kanak. Anak-anak suka yang menonjol. Mereka sangat tertarik dengan yang kelihatan. Rasul Paulus ingin supaya jemaat Korintus bertumbuh menjadi dewasa dan lebih mementingkan karunia-karunia yang membangun jemaat."
Maksud dari pernyataan di atas adalah bahwa kerinduan Paulus agar jemaat Korintus bertumbuh dan menjadi dewasa dan agar mereka tidak lagi menyombongkan diri (seperti anak-anak) dengan karunia bahasa roh yang mereka miliki, yang sesungguhnya mereka juga tidak memahaminya dan justru tidak membangun jemaat, oleh karena itu Paulus lebih menekankan karunia bernubuat karena kenyataan jemaat Korintus lebih mengutamakan karunia bahasa lidah yang tidak disertai tafsirannya yang dinilai tidak membangun jemaat. Maksud Paulus adalah supaya mereka juga meminta dalam doa karunia untuk menafsirkan bahasa lidah itu agar jemaat mengerti dan dibangun melaluinya.
Warren W. Wiersbe dalam bukunya Hikmat Di Dalam Kristus menyatakan bahwa:
Kesalahan yang dilakukan jemaat di Korintus ialah bahwa mereka  lebih mementingkan pembangunan diri mereka sendiri daripada  pembangunan jemaat. Mereka ingin meneguhkan diri mereka sendiri,  tetapi mereka tidak mau meneguhkan sesama mereka orang  percaya.... Orang yang berkata-kata dengan bahasa roh (kecuali ada  seorang penafsir bahasa roh itu) akan mengalami kepuasan dalam  ibadahnya dengan Allah, tetapi ia tidak membangun jemaat itu.
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa karunia bahasa roh itu bermanfaat dan bisa membangun jemaat, asalkan disertai dengan karunia menafsir bahasa lidah itu agar jemaat mengerti maksudnya dan memuliakan Tuhan serta imannya dikuatkan. Namun kenyataan yang terjadi di Korintus bahwa mereka terlalu mementingkan diri sendiri dan mengabaikan pembangunan jemaat, sehingga Paulus tidak terlalu menganjurkan karunia ini.

D. Implikasi
Pada bagian ini penulis mencoba untuk meberikan informasi dari ahli mengenai implikasi karunia bahasa lidah dalam pertumbuhan jemaat masa kini, yaitu dalam tiga fase. Suatu fenomena religius menakjubkan di masa kita adalah berbicara dalam bahasa lidah, yang, menurut beberapa pengamat, kini telah memasuki fase ketiga. Tahap 1 berlangsung tahun 1906 di California. Selama separuh abad pertama, secara umum itu terbatas pada sedikit denominasi kecil. Penerimaan pengalaman pentakostal (bersifat atau berkenaan denga Pentakosta) oleh beberapa gereja dari denominasi-denominasi utama ini dimulai pada tahun 1960, mengantar ke tahap 2. Sejak saat itu, ucapan bunyi-bunyian yang ekstatik (gembira luar biasa) itu, pada suatu ketika terbatas pada kelompok-kelompok sosial-ekonomi yang lebih rendah telah terdengar di ruang-ruang tamu beberapa pendeta bermartabat. Tahap tiga dimulai sekitar tahun 1967, ketika gerakan itu berlangsung dalam lingkungan Roma Katolik. Pada bulan Juni 1973 The Seventh International Conference on the Charismatik Renewal memboyong 22.000 peserta yang antusias ke Notre Dame untuk konvensi selama tiga hari. Diperkirakan 300.000 orang Katolik telah beralih menjadi Karismatik.
Dari penjelasan di atas, jelas pengaruh bahasa lidah dalam gereja masa kini sangatlah besar, dan implikasinya bagi pertumbuhan iman gereja sangat terlihat jelas dari bagaimana cara mereka hidup, yang sebenarnya hanya untuk kesombongan rohani dan untuk kepentingan diri sendiri maupun kelompok. Fenomena ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Korintus.
Walaupun tidak semua gereja yang melakukan praktek ekstatik dalam hal bahasa lidah, namun kenyataan sekarang banyak gereja khususnya aliran karismatik yang salah menggunakan karunia ini. Mereka dengan maksud dan makna yang salah telah menyebarkan doktrin yang seharusnya tidak demikian, namun itulah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang lebih menyukai ucapan-ucapan yang ekstatik. Dan praktek penyalahgunaan karunia bahasa roh masa sekarang tidak terlalu mementingkan penafsiran, ini juga adalah pembodohan yang terjadi karena kepentingan pribadi maupun kelompok.

BAB III
KESIMPULAN
Polemik yang terjadi mengenai ucapan-ucapan yang ekstatik ini (karunia bahasa lidah) sesungguhnya terletak pada penafsiran yang keliru dari mereka yang menggunakannya dan dengan demikian menimbulkan pertentangan demi pertentangan. Seharusnya, bahkan Paulus sendiri mengemukakan argumennya bahwa karunia itu harus dapat membangun iman jemaat dan untuk kepentingan bersama (ayat 3-5, 12, 17). Fakta yang terjadi dalam gereja-gereja masa kini adalah karunia bahasa lidah seolah-olah menimbulkan kekacauan dalam ibadah dan tidak teratur atau tidak tertib, rasul Paulus kepada jemaat Korintus pernah mewanti-wanti mereka aga tertib dalam ibadah, "tetapi segala sesuatu harus berlangsung sopan dan teratur" (14:40).
Tujuan Paulus adalah mendukung ajarannya bahwa bahasa-lidah tanpa penafsiran tidak berguna di hadapan umum. Pun di hari Pentakosta, dengan mujizat xenolalia, di mana banyak orang mendengar puji-pujian kepada Allah dalam bahasa mereka masing-masing, ada juga orang-orang yang mengejek murid-murid Yesus dan menolak tanda kuasa Allah yang terjadi pada mereka (Kis. 2:12-13). Bahasa lidah memang berfungsi sebagai tanda untuk menyatakan pekerjaan ilahi kepada orang yang tidak percaya, tetapi tanda itu sering ditolak.
Jika tanda yang langsung dari Allah saja ditolak, bagaimana dengan bahasa lidah yang pada masa sekarang disalahpraktekkan? Bukankah ini akan menjadi batu sandungan bagi saudara seiman bahakan amat terlebih bagi mereka yang belum percaya? Dan bukankah tanda yang Allah nyatakan untuk membangun iman jemaat dan membuat yang belum percaya menjadi percaya? Tetapi fakta yang terjadi sekarang tidaklah demikian. Penulis sangat setuju jika ada yang memiliki karunia ini untuk dinyatakan di dalam kebaktian jemaat, tetapi harus disertai dengan penafsirannya agar jemaat dibangun dan dikuatkan. Hal inilah yang membuat Paulus mebanding-bandingkan karunia bahasa lidah dengan karunia nubuat, karena memang pada dasarnya dan pada kenyataannya karunia nubuat yang lebih efektif dan membangun iman jemaat ketimbang karunia bahsa lidah, sehingga Paulus sering berkata bahwa karunia yang lebih berguna adalah nubuat (ayat 22).
Akhirnya, milikilah dan mintalah di dalam doa karunia yang lebih berguna untuk membangun iman jemaat. Jika itu adalah karunia bahasa lidah, maka mintalah juga karunia untuk menafsirkannya. Kalau tidak demikian, maka seharusnya bahasa lidah yang tanpa penafsiran tidak usah dan tidak harus dinyatakan di dalam ibadah umum, karena itu tidak ada faedahnya sama sekali bagi saudara seiman lainnya bahkan bagi yang menggunakannya hanya akan menunjukkan kesombingan rohaninya dan menganggap bahwa standar kerohaniannya lebih tinggi dibanding dengan yang lain.
karunia bahasa lidah adalah baik, karena jika tidak demikian untuk apa Allah memberikan karunia itu, tetapi karunia yang baik itu harus dipraktekkan dengan baik pula dan untuk kebaikan bersama bukan hanya untuk pribadi. Karena pada dasarnya ketika kita secara pribadi telah diberkati dan dikuatkan melalui karunia yang kita miliki, maka sebagai orang Kristen sudah seharunya kita juga menguatkan dan memberkati orang lain dengan karunia yang kita miliki, dengan demikian gereja semakin kuat dan bertumbuh di dalam iman.



Kepustakaan:

Baker, David L. Roh dan Kerohanian Dalam Jemaat. Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2004
Baxter, J. Sidlow. Menggali Isi Alkitab 4 Roma-Wahyu. Diterjemahkan oleh Sastro  Soedirdjo. Disunting oleh G.M.A. Nainggolan, H.A. Oppusunggu. Jakarta:  YKBK, 2001
Davar3. Greek Lexicon IPD, glossa. Terjemahan pribadi. Manado: 2013
Flynn, Leslie B. 19 Karunia Roh. Diterjemahkan oleh Jennifer E. Silas. Disunting  oleh Lyndon Saputra. Jakarta: Gospel Press, 2001
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001
Pfitzner, V.C. Kesatuan Dalam Kepelbagaian. Diterjemahkan oleh Stephen  Suleeman. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011
Preston, Craig. Diktat Kuliah I-II Korintus. Yogyakarta: STII, 1994
Splitter, Russel P. Pertama dan Kedua Korintus. Malang: Gandum Mas, tt
Wiersbe, Warren W. Hikmat di dalam Kristus. Bandung: Kalam Hidup, 1983

Kamis, 24 April 2014

Redeeming The Future - Theme of Telling 2014 STT Indonesia Manado

Philipians 3:13b "but  this one thing I do, forgetting those things which are behind, and reaching forth unto those things which are before,
14 I press toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus.

The Point is:
"We can't Redeem our past, but we can Redeem our future"